Pengalamanku saat berbagi



Ditengah-tengah kesibukan menjadi mahasiswa di salah satu Universitas swasta di Bengkulu saya luangkan waktu untuk belajar di luar. Kampus memang tempat belajar namun dirasa kurang jika hanya teori yang didapat di tingkat siswa tertinggi yaitu mahasiswa. Di luar materi kampus saya belajar berogranisasi, saya ikut organisasi. Dalam organisasi banyak pelajaran yang bisa didapatkan, di organisasi saya melatih mental saya dalam menghadapi orang banyak, saya belajar bagaimana etika yang baik ketika bertemu dengan teman, bertemu dengan orang yang lebih tua bahkan etika ketika bertemu dengan orang yang lebih muda. Organisasi mengajarkan banyak hal kepada saya. Di organisasi saya bisa melatih jiwa sosial saya untuk lebih peduli terhadap sesama, di organisasi semangat dalam jiwa saya bangkit kembali. Semangat untuk belajar lebih baik lagi. Semangat untuk tetap bertahan hidup dalam kejamnya dunia ini. Semangat untuk terus peduli terhadap sesama dan saling tolong menolong. Tiba saatnya ketika ada sebuah kegiatan bakti sosial untuk korban gempa di Lebong di salah satu organisasi yang saya ikuti. Dari berita yang beredar akibat gempa tersebut menimbulkan kerugian yang cukup parah, ada 5 rumah rusak parah di desa Tabeak belau tak layak huni. Akhirnya  tepat pada tanggal 08 Desember 2017, saya dan teman-teman satu organisasi melakukan bakti sosial, saya dan teman-teman mulai jam 3 sore untuk meminta uang seikhlasnya kepada pengendara roda dua ataupun roda empat di lampu merah simpang lima dengan hastag Peduli Lebong. Beberapa jam telah berlalu tak terasa gelap mulai menyelimuti alam. Tak sadar ternyata sudah malam. Alhamdulillah berkat perjuangan ini melawan debu dan polusi udara dari kendaraan, melawan rasa malu, melawan ketakutan karena beresiko di tabrak pengendara, melawan haus dan lapar, hasilnya lumayan memuaskan. 
Tak apa bagi saya dan teman-teman demi mereka yang membutuhkan bantuan. Setelah melakukan bakti sosial di lampu merah simpang lima, hari senin tanggal 11 Desember 2017 saya dan teman-teman memutuskan untuk meminta di tiap-tiap kelas yang ada dikampus, Alhamdulillah hasilnya juga lumayan. Bersyukur kami kepada Allah SWT. Setelah sejenak melupakan mengenai bakti sosial itu saya kembali dengan kesibukan sebagai mahasiswa, belajar, menerima materi dari dosen, mengerjakan tugas dan lain sebagainya. Yahh seperti orang kuliah pada umumnya kira-kira,  Menjadi mahasiswa seutuhnya. Pada akhirnya tepat pada tanggal  29 Desember 2017 saya dan teman-teman memutuskan untuk menyalurkan uang yang kami dapatkan ketika itu. Namun setelah dihitung ternyata kurang pantas jika saya dan teman-teman jauh-jauh dari Bengkulu memberikan bantuan berupa amplop untuk warga Lebong yang rumahnya rusak parah tak layak huni dengan isi senilai Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) saja. Karena ketika itu uang yang kami dapatkan dari bakti sosial hanya Rp. 2.500.000,- (dua juta lima ratus ribu rupiah). Pada akhirnya setelah diskusi bersama teman-teman kami memutuskan untuk memberikan bantuan berupa logistik seperti beras, supermi, minyak goreng, gula, susu, sabun cuci, sabun mandi, pepsodent, dan makanan ringan. Tersisa uang Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) kami berikan bersama logistik sebesar Rp. 200.000,- diamplop. Namun logistik tersebut akan dibeli di perjalanan nanti. Pagi itu jadwal keberangkatan saya dan teman-teman jam 08.00 WIB bertepatan pada hari yang mulia, hari jum’at. Namun hari itu saya kesiangan, jam keberangkatanpun tertunda menjadi jam 9.00 WIB, dari kos-kosan saya dan teman saya terburu-buru, sempat berbohong karena tak enak kepada yang lain sudah lama menunggu. Setelah sampai di tempat berkumpul ternyanta tak ada satupun orang. Sedangkan saya dan teman saya sudah melakukan dosa yang nantinya akan di pertanggungjawabkan. Menunggu adalah hal yang sangat membosankan bagi saya. Beberapa jam kemudian datang teman saya yang lain satu persatu. Akhirnya terkumpul semua teman-teman saya, waktu itu berjumlah 10 orang. Sedikit kecewa karena menunggu lama, namun demi mereka yang membutuhkan bantuan di Lebong sana hilang semua rasa hingga tertinggal rasa semangat saja.


Saya dan teman-teman berangkat sekitar jam 10 pagi. Perkiraan perjalanan adalah 3 jam untuk sampai ke lebong meggunakan sepeda motor. Semangat saya dan teman-teman semua membara, saking semangatnya ada 2 teman saya yang tidak sempat mandi dan ada pula yang belum sarapan. 3 jam adalah waktu yang sebentar bagi saya dan teman-teman untuk sekedar menempuh perjalanan. Perkiraan kami siang kami sampai di lebong dan langsung menyalurkan bantuan, jam 5 sore kami pulang karena harus kembali beraktivitas seperti biasa. Tak disangka kami mendapat musibah, memang niat baik banyak rintangannya. Musibah pertama adalah motor dari salah satu teman kami pecah ban di wilayah tebing-tebing jarang perumahan. Saya dan teman-temanpun harus putar balik untuk kembali ke wilayah yang padat perumahan untuk mencari bengkel. Sampai saya dan teman-teman ke bengkel dan Alhamdulillah semua sudah beres. Saya dan teman-teman melanjutkan perjalanan. Setengah dari perjalanan sudah kami tempuh, Alhamdulillah perkiraan sekitar 1 jam lagi akan sampai ke lokasi. Tak sabar melihat saudara-saudara di Lebong. Lanjut lagi saya dan teman-teman memulai perjalanan. Sialnya lagi-lagi motor yang dikendarai salah satu teman putus rantai, lagi-lagi di tengah-tengah hutan tanpa perumahan. Kembali lagi kami harus mencari bengkel terdekat. Namun tak  ada bengkel terdekat kecuali kembali ke bengkel awal. Wahh rasanya sudah campur aduk bagi saya. Lelah sekali rasanya punggung sudah pegal badan sudah tak enak lagi. Untung saja betemu dengan orang lewat dan dia menunjukkan bengkel terdekat. Saya dan teman-teman wanita menunggu di sebuah warung tak ikut dengan para lelaki yang pergi ke bengkel. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya kembalilah para pria dan kami melanjutkan kembali perjalanan, kala itu sekitar jam 2 siang. Diperjalanan melewati tebing dan pegunungan lelah rasa tubuh saya namun terobati dengan panorama alam yang indah. Tersenyum saya didalam hati.

Hilang senyum saya ketika ada tetesan air dari langit mengenai jemari, menandakan saat itu turun hujan. Kekhawatiran mulai timbul dihati takut tak sampai saya dan teman-teman kelokasi sedangkan saudara-saudara di Lebong telah menanti. Kekhawatiran itu bertambah ketika mendengar salah satu teman memanggil diatas kendaraannya dia berkata “ ban kami bocor lagi”. Diatas tebing kami saat itu. Tak sanggung lagi saya dan teman-teman kembali untuk mencari bengkel, pergi berdua teman saya untuk kebengkel untung saja tebing itu tak jauh dari keramaian penduduk. Diatas tebing tepat ditikungan saya dan 7 teman saya menunggu sambil menikmati rintikan hujan turun yang mulai membasahi tubuh kami. Selang beberapa menit kemudian mereka kembali, teman yang dari bengkel sudah kembali, saatnya saya dan teman-teman melanjutkan perjalanan. Akhirnya sekitar jam 5 sore kami sampai di Lebong, indah dan rapi ternyata Lebong ini dalam hati saya. Namun saya dan teman-teman lupa membeli logistik, akhirnya saya dan teman-teman pergi ke pasar di Lebong, dengan terpaksa melewati desa yang di tuju untuk membeli logistik terlebih dahulu. Alhamdulillah sampai kami di sebuah toko alfamart. Saya dan teman-teman membeli logistik sesuai dengan yang kami targetkan. Alahamdulillah semuanya pas. Saya dan teman-teman mengemas logistik yang sudah dibeli untuk di bagi menjadi 5 bagian biar pas dan langsung di bagikan. Hendak melangkah kaki kami dari alfamart, namun hujan deras turun membasahi motor-motor kami yang terparkir rapi. Sungguh banyak kesulitan untuk satu kebaikan. Menunggu hujan saya dan teman-teman di depan alfamart, namun hujan semakin deras dibarengi angin yang membuat suasana semakin dingin.  Alam sudah mulai menunjukkan gelapnya. Karena tak sabar,  dengan fisik yang kuat kami terjang hujan untuk melanjutkan perjalanan. Sampai akhirnya saya dan teman-teman di desa tabeak belau, desa tujuan kami. Pergi saya dan teman-teman ke balai desa tempat saudara-saudara kami menunggu namun ternyata sepi balai desa itu, tak ada satu orang pun. Wajar saja ketika itu jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, sudah terlalu lama mereka menunggu di balai itu. Lagi-lagi menunggu, menunggu kepastian dari kepala desa kali ini, untung saja bertemu dengan orang yang dikenal oleh salah satu teman saya. Diantar kami kerumah sekretaris desa karena kepala desa sedang main bola.
Gelap menyelimuti suasana bersama dengan rintikan hujan. Sekretaris desa mengantar saya dan teman-teman ke rumah-rumah warga untuk memberi bantuan. Namun kecewa terasa, sesak hati saya dan teman-teman ketika melihat keadaan yang sesungguhnya tidak sesuai dengan harapan. Kami diantar ke sebuah rumah berbentuk perumnas yang baru dan masih bau harum cat di dindingnya. Sekretaris desa bilang itu rumahnya yang terkena gempa. Sungguh berbanding terbalik dengan apa yang saya dan teman-teman angankan, dimana potret rumah yang rusak parah itu, yang kami gunakan untuk meminta sumbangan di simpang lima dengan penuh perjuangan melawan segala rasa yang ada. Dimana orang-orang yang sebenarnya membutuhkan bantuan itu. Sungguh kecewa, ingin marah tapi kepada siapa. Setelah di telusuri ternyata sekretaris desa tersebut memang memberikan bantuan kepada korban gempa tapi bukan yang rusak parah rumahnya namun yang masih berbau saudara dengannya.
Pulang kami dengan keadaan setengah basah karena terguyur hujan dari lokasi warga yang terkena gempa dengan perasaan kecewa. Kembali pulang saya dan teman-teman ke Bengkulu jam 8 malam, sempat terjatuh di jalan masuk kedalam lumpuran, kotor semua pakaian. Tengah malam kami istirahat dimasjid daerah sekitar hingga dini hari tiba kami lanjutkan perjalanan sampai pada waktu subuh kami sampai ke Bengkulu. Semakin terasa lelah ketika itu. Harapan tak sesuai dengan kenyataan. Perjuangan tanpa batas dengan niat baik tak sesuai dengan hasil yang dicapai.

Baca Juga Cerita Saat Jadi Mahasiswa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Soal tentang Firewall